Ikan Luka

i’m here, and i love you. i have always loved you, and i will always love you. i was thinking of you, seeing your face in my mind, every second that i was away.
Malam lebih mirip sekumpulan air yang membentuk danau baru yang luas. Mengandung kecemasan, gelisah, dan kerinduan yang luap serta berkilauan. Beberapa hari mereka menjelma menjadi teratai, katak-katak, dan plankton. Selebihnya malaikat menadah doa-doa yang berjatuhan ke atas langit.
Aku menganggap diriku sebagai ikan luka yang telah lelah menghitung waktu, tapi tak pernah lelah terbang. Menyelami kedalaman danau ini. Dengan sirip yang terbuat dari air mata sendiri, mencarimu. Dan tak pernah ingin bosan menemukanmu.
Bagaimana bisa, kau yang lebih lekat dengan darahku daripada aku sendiri, tiba-tiba hilang? Lenyap, seperti sebuah pertunjukan sulap yang pernah kita saksikan di televisi dulu. Sebuah adegan yang menunjukkan seorang wanita cantik dengan baju seksi yang dimasukkan ke dalam sebuah kotak hitam sebesar kurang lebih satu meter kubik, dibacakan mantra oleh sang pesulap. Beberapa menit kemudian, kotak hitam itu dibuka lagi, dan tiba-tiba saja wanita cantik tadi hilang. Lenyap. Kotak itu kosong tak berisi. Seluruh penonton bertepuk tangan. Antara terpukau dan kebingungan.
Akupun selalu berharap bahwa kejadian tentang hilangnya kau dariku itu hanyalah sulap. Atau kau sengaja bekerja sama dengan pesulap tadi untuk memberikan kejutan padaku. Sayangnya bukan.
Sebelum tidur aku selalu menatap langit-langit kamar, meski yang ada hanya gelap karena lampu selalu kumatikan. Namun dengan menatap langit-langit kamar yang gelap aku merasa seperti seorang tokoh dalam film futuristik yang bisa dengan mudah memutar film, adegan demi adegan hanya dengan menggerakkan tangan ke udara saja. Film-film, adegan-adegan, kenangan-kenangan kita.
Di saat seperti itu aku berharap kau tiba-tiba mengetuk pintu jendela kamarku, atau membuat jantungku berdegup karena mendengar suara derap kakimu menuju kamar tidurku. Tok-tok-tok, tiga kali ketukan pintu, dan suaramu yang agak parau memanggil namaku.
Tapi semakin kuharapkan, semakin aku sadari semua yang bisa melakukan adegan tadi hanya sepi.
Aku hanya paham bahwa kau telah menjadi definisi terbaru untuk kata ” terjauh ” , dan aku telah menjadi pembohong gagal, yang tak bisa tersenyum, pura-pura bertahan, saat rindu melesatkan ratusan anak panahnya dari berbagai arah. Hatiku; ranting kering yang tertimpa nelangsa.
(tentu kau tak pernah mencoba rasanya jadi Hawa yang hampir putus asa menemukan Adam)
Aku selalu percaya bahwa kau adalah kunci dari rapatnya hatiku. Kau pasti tahu, bahwa satu kunci hanya bisa digunakan untuk satu gembok pasangannya. Takkan berfungsi untuk yang lainnya. Kau, sesuatu yang amat penting bagi detak jantungku, sesuatu yang tak pernah boleh aku teledor meletakkannya, sesuatu yang harus selalu kugantungkan di leherku. Tempatmu, tak akan pernah mampu dimasuki oleh setia lainnya.
Bahkan jika danau ini menjadi gurun atau dunia khayal, atau bahkan jika Tuhan sebenarnya tak pernah merasa menciptakan engkau, aku tetaplah ikan luka yang tak pernah ingin bosan menyelam, ke dasar yang terdalam. Menemukanmu.
Orang-orang tak punya hati itu akan menyebut aku bodoh, tapi aku menyebut diriku sendiri sebagai setia.
7 Mei 2012